Membangun Karakter Hamba yang Tangguh: Refleksi Doulos Camp "Perkemahan Hati Hamba"
- Sekolah Tinggi Teologi Bethel Indonesia

- Feb 19
- 2 min read

JAKARTA, 30 - 31 Januari 2025 – Dalam upaya memperkuat fondasi spiritual dan integritas para pelayan Tuhan, tim Bethel Empowering Center (BEC) di bawah naungan langsung Sinode Gereja Bethel Indonesia (GBI) sukses menyelenggarakan Doulos Camp (Perkemahan Hati Hamba) kepada para mahasiswa angkatan 2022 Sekolah Tinggi Teologi Bethel Indonesia. Kegiatan yang berlangsung selama dua hari, 30-31 Januari 2026 ini, berfokus pada pembentukan karakter serta pemantapan jati diri sebagai pelayan yang memiliki hati seorang hamba (Doulos). Sepanjang dua hari intensif, para peserta dibekali dengan prinsip-prinsip Alkitabiah yang fundamental melalui tujuh sesi utama. Berikut adalah rangkuman perjalanan transformasi tersebut:
Hari Pertama: Pemulihan Jati Diri, Otoritas & Loyalitas
Perkemahan dimulai dengan sesi "Gambar Diri yang Sehat" oleh Pdm. Joel Manalu. Beliau menekankan bahwa pelayanan yang efektif dimulai dari jiwa yang sehat. Banyak pelayan terjebak dalam kepura-puraan karena takut gagal, namun Tuhan sanggup memulihkan setiap hati yang bersedia berubah.
Dilanjutkan oleh Pdm. Gorring Abast, sesi kedua membahas "Hati Nurani yang Murni". Mengacu pada Kisah Para Rasul 24:16, para mahasiswa diajak untuk hidup dengan tanggung jawab penuh, baik kepada Tuhan maupun sesama. Hati nurani yang bersih bukan sekadar perasaan, melainkan mesin penggerak integritas yang mampu mengalahkan dosa dan menumbuhkan kasih Agape dalam penyelesaian konflik.
Menutup rangkaian hari pertama, Ibu Indri membawa materi mengenai "Nilai Luhur". Fokus utama sesi ini adalah prinsip menegur dan ditegur (Amsal 27:5). "Tegurlah secara pribadi, namun pujilah di depan orang lain," ungkapnya. Kesediaan untuk ditegur adalah tanda bahwa seseorang masih dicintai dan siap dibawa Tuhan ke level yang lebih tinggi.
Pembekalan materi selanjutnya mengenai "Prinsip Otoritas" dibawakan oleh Pdm. Gorring Abast. Melalui analogi "payung perlindungan", peserta diajarkan bahwa ketundukan kepada otoritas adalah perlindungan nyata dari serangan iblis. Pengerja gereja dipanggil untuk mendukung pemimpin meskipun mereka memiliki kekurangan, guna menjaga keutuhan tubuh Kristus.
Selanjutnya, peserta mendalami "Penyerahan Hak". Menjadi hamba berarti melepaskan hak milik dan menyadari bahwa kita hanyalah pengelola. Analogi hamba digambarkan melalui tiga simbol:
Budak: Mengabdi sepenuhnya pada majikan.
Keset: Siap menjadi pijakan dan menanggung beban.
Domba: Siap dikorbankan bagi kemuliaan Tuhan.
Hari Kedua: Otoritas, Loyalitas, dan Panggilan Ilahi
Hari kedua diawali dengan seruan untuk Menjadi Pelayan yang Ekselen. Pada sesi keenam, peserta ditantang untuk keluar dari semangat Mediocrity (asal-asalan) dan masuk ke dalam Spirit of Excellence. Pelayanan yang ekselen bukan sekadar profesionalisme, melainkan memberikan yang terbaik dengan segenap hati, pikiran, dan perasaan (Daniel 6:4). Karakter diuji melalui respon yang benar terhadap tanggung jawab yang diberikan.
Sebagai penutup yang kuat, sesi ketujuh membahas tentang "Divine Calling". Di tengah godaan dunia yang seringkali menawarkan "hadiah" untuk membelokkan tujuan Allah, para mahasiswa STTBI diajak untuk melupakan masa lalu dan fokus pada rencana Tuhan hari ini. Panggilan Ilahi hanya bisa digenapi melalui pengenalan akan Allah yang mendalam dan kesediaan untuk melewati proses pemuridan yang menuntut pengorbanan.
Kesimpulan
Doulos Camp bukan sekadar pelatihan rutin, melainkan sebuah momentum "pertukaran total". Para pelayan pulang dengan komitmen baru: bahwa hidup dan pelayanan mereka sepenuhnya adalah milik Tuhan. Dengan hati yang telah dipulihkan dan karakter yang diasah, tim Bethel Empowering Center berharap para lulusan Doulos Camp siap menjadi pembuat sejarah di ladang pelayanan GBI.
"Karena seluruh hidupku dan pelayananku milik Tuhan sepenuhnya, bukan milik pribadi."













Comments