Menebar Hospitalitas dan Teopoetik Pentakosta di Era Hiperkonektivitas: Wisuda ke-40 STT Bethel Indonesia Teguhkan Pengutusan Cendekiawan Gereja dan Bangsa

JAKARTA — Sekolah Tinggi Theologia (STT) Bethel Indonesia merayakan salah satu pencapaian akademis dan spiritual terpentingnya melalui pergelaran Sidang Terbuka Senat Wisuda ke-40 pada Rabu, 16 September 2026. Berlangsung dengan penuh keagungan di Main Hall GBI Ecclesia Family Church, Kompleks Perumahan Taman Semanan Indah, Blok NA No.1, RT.2/RW.11, Duri Kosambi, Cengkareng, Jakarta Barat, perhelatan sakral yang dimulai tepat pukul 07.00 WIB ini menjadi ruang kesaksian bagi pembentukan cendekiawan gereja dan bangsa yang memiliki kedalaman intelektual, kepekaan pastoral, serta keberanian etis di tengah dinamika zaman kontemporer.

Kemegahan perhelatan diawali melalui arak-arakan processional yang sarat akan simbol-simbol gerejawi dan akademis. Barisan terdepan dipimpin oleh pembawa panji-panji bendera dari seluruh program studi serta tiang kebesaran STT Bethel Indonesia. Mengiringi panji-panji tersebut, hadir jajaran pimpinan tertinggi institusi yang terdiri atas Ketua STTBI, Wakil Ketua I Bidang Akademik, Wakil Ketua II Bidang Keuangan dan Administrasi, Wakil Ketua III Bidang Kemahasiswaan, Direktur Pascasarjana, serta para Ketua Program Studi dari jenjang Sarjana hingga Doktoral meliputi S1 Teologi, S1 Pendidikan Agama Kristen (PAK), S2 Teologi, S2 PAK, S2 Pastoral Konseling, S3 Teologi, dan S3 Ministri. Barisan kehormatan ini disempurnakan oleh kehadiran Ketua Lembaga Penjaminan Mutu Internal (LPMI), Ketua Lembaga Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat (LPPM), Ketua Senat STTBI, Ketua Umum Badan Pekerja Harian (BPH) GBI, Ketua Yayasan Bethel Indonesia, orator ilmiah, serta dewan guru besar. Rangkaian peribadatan dan sidang terbuka ini kemudian dibuka secara resmi dalam keheningan doa oleh Pdt. Dr. Johni Hardori, Ketua Komite Integritas STTBI, yang memohon kepemimpinan dan naungan Roh Kudus atas seluruh jalannya acara.
Puncak wacana akademis ditandai dengan penyampaian Orasi Ilmiah oleh Pdt. Dr. Apin Militia Christi bertajuk "Pastoral Berwajah Hospitalitas dan Teopoetik Pentakosta: Membangun Pelayanan Pastoral yang Ramah dan Indah Berbasis Pentakostal". Dalam pemaparannya yang bernas dan komprehensif, beliau membedah krisis pastoral mendasar yang tengah dihadapi gereja modern di tengah era hiperkonektivitas digital. Fenomena saat ini menunjukkan bahwa meskipun koneksi online meluas, relasi antarmanusia justru kian menipis; banjir konten informasi tidak otomatis menyediakan ruang aman bagi jiwa-jiwa yang terluka; dan angka kehadiran (attendance) belum tentu mencerminkan rasa memiliki (belonging) yang sesungguhnya. Menurut Pdt. Dr. Apin, gereja perlu kembali mengajukan pertanyaan pastoral yang esensial: apakah setiap pribadi yang datang sungguh-sungguh merasa dikenal, didengar, diterima, dan didampingi?
Untuk menjembatani jurang akademis dan praktis tersebut, Pdt. Dr. Apin mengajukan metodologi berteologi konstruktif yang memadukan dimensi normatif Alkitabiah, interpretasi tradisi Pentakostal, pemikiran konstruktif, serta aplikasi pragmatis-kritis. Landasan biblika hospitalitas dilacak dari keteladanan Abraham yang menyambut tamu asing sebelum mengetahui identitas mereka, perlindungan terhadap kaum rentan (gēr) dalam kisah Rut, hingga keadilan kovenan para nabi. Puncak dari hospitalitas tersebut menjelmakan diri secara utuh (incarnational) dalam pribadi Yesus Kristus. Kristus tidak sekadar mengajarkan hospitalitas, melainkan memakannya, menjalankannya, dan memecahkan roti di dalamnya, sebagaimana terlihat dalam transformasi rumah Zakheus, perjamuan radikal yang membongkar hierarki sosial dalam Injil Lukas 14, serta perjalanan penuh pendampingan di jalan menuju Emaus. Hospitalitas Kristologis ini bukanlah keterbukaan yang kehilangan arah, melainkan memiliki pusat yang kokoh pada Salib Kristus (cruciform) guna mewujudkan pemulihan, persekutuan (communion), dan transformasi karakter.
Dalam kerangka pemikiran tersebut, Pdt. Dr. Apin memperkenalkan novelti akademis berupa arsitektur pastoral empat dimensi: House (Rumah), Table (Meja), Road (Jalan), dan Fire (Api). Dimensi House menekankan penciptaan ruang aman (safety) dan pengalaman rasa memiliki (belonging) melalui alur penyambutan yang sistematis, dari disambut, dikenali, terhubung, didampingi, hingga menjadi bagian dari komunitas. Dimensi Table menguji distribusi penghormatan, di mana meja persekutuan bukan sekadar tempat berkumpul, melainkan ruang bagi pendistribusian tempat duduk (seats), penyuaraan kebenaran (voice), dan pelibatan pengaruh (influence). Dimensi Road menuntut gereja untuk tidak hanya menunggu di dalam gedung, melainkan bersedia berjalan bersama masyarakat, mendengar kontekstualisasi zaman, dan berani bersikap rendah hati sebagai tamu (guesthood) sebelum menjadi tuan rumah. Sementara itu, dimensi Fire menegaskan bahwa api Roh Kudus dalam tradisi Pentakosta tidak boleh direduksi menjadi sekadar tontonan (spectacle) atau pameran karisma luar, melainkan harus diuji melalui hikmat (discernment), pembentukan karakter (formation), dan buah sosial (social embodiment).
Seluruh arsitektur pastoral tersebut dipagari oleh Salib Kristus agar penggunaan kuasa dalam gereja ditujukan semata-mata untuk melindungi, memberdayakan, dan membangun persekutuan. Pdt. Dr. Apin memaparkan manifesto transformasi yang mendorong gereja untuk bergerak dari dominasi kontrol menuju keterbukaan yang aman, dari eksklusivitas kelompok menuju meja persekutuan yang merangkul, dari ekspansi ekspansionis menuju misi yang ramah, serta dari manipulasi emosional menuju pembentukan murid yang dewasa. Melalui pendekatan teopoetik yang memanfaatkan metafora, ritme, narasi, dan estetika keimanan pelayanan pastoral diajak untuk mengintegrasikan akuntabilitas, perlindungan kelompok rentan (safeguarding), dan pemanfaatan teknologi secara bijak tanpa pernah menggantikan kehadiran personal (presence) dengan otomatisasi algoritma.
Kehangatan akademis berlanjut dengan sambutan perwakilan mahasiswa yang disampaikan oleh Dr. Sahala Nainggolan. Beliau menegaskan refleksi para wisudawan atas tempaan akademis dan spiritual yang telah dialami selama studi di STTBI, yang membekali mereka untuk menjadi pemimpin yang peka terhadap penderitaan sesama. Momen tersebut disempurnakan dengan peluncuran buku karya Ketua STT Bethel Indonesia, Prof. Dr. Frans Pantan, yang berjudul "Pastoral Berwajah Hospitalitas dan Teopoetik: Meneguhkan Karya Roh Kudus dalam Pemulihan, Pengajaran, Kesaksian dan Pembentukan Komunitas Iman". Peluncuran buku ini menjadi bukti nyata komitmen STTBI dalam menghadirkan sumbangsih literatur teologi yang relevan, inovatif, dan berdaya ubah bagi perkembangan gereja serta akademisi di Indonesia.
Agenda inti sidang terbuka ditandai dengan pembacaan Surat Keputusan (SK) Wisuda ke-40 STTBI oleh Wakil Ketua I Bidang Akademik, Prof. Dr. Gernaida KR. Pakpahan. Setelah pembacaan hasil studi dari setiap program studi, prosesi pelantikan dan pengukuhan wisudawan dilangsungkan secara khidmat oleh Ketua STTBI, Prof. Dr. Frans Pantan. Pada kesempatan tersebut, manajemen institusi juga mengumumkan nama-nama Wisudawan Teladan dan Berprestasi Tahun 2026 sebagai bentuk apresiasi atas keunggulan akademis, integritas karakter, dan kepemimpinan mereka selama masa studi.
Atmosfer haru dan sakral kian memuncak ketika seluruh wisudawan berdiri untuk mengucapkan Janji Wisudawan, yang dipimpin oleh perwakilan lulusan, Elberth Mirino dari Program Studi S1 Teologi (Angkatan 2022) dan Eunike Patipelohy dari Program Studi S1 Pendidikan Agama Kristen (Angkatan 2022). Usai pengikraran janji, seluruh hadirin bersama para wisudawan melantunkan lagu kebangsaan Bagimu Negeri sebagai wujud komitmen pengabdian bagi bangsa dan negara. Rangkaian pengukuhan ini kemudian dimeteraikan dalam Doa Pengutusan yang dinaikkan oleh Ketua BPD GBI Jawa Barat, Pdt. Satrya, menyerahkan para lulusan ke dalam pimpinan Allah di medan pelayanan masing-masing.
Kemuliaan acara diwarnai pula oleh persembahan pujian artistik dari Willyam dan Bryan yang membawakan tembang berjudul "Dalam Tuntunan Hikmat Allah", sebuah karya komposisi puitis ciptaan Prof. Dr. Frans Pantan. Acara kemudian dilanjutkan dengan penyematan Pin Alumni STTBI oleh Ketua Ikatan Alumni STT Bethel Indonesia (ILUSBI), Pdt. Dr. Naftali Untung, M.Th., kepada para perwakilan lulusan jenjang S1, S2, dan S3 sebagai simbol penerimaan mereka ke dalam keluarga besar alumni yang tersebar di seluruh pelosok negeri.

Dukungan penuh kelembagaan disampaikan melalui serangkaian sambutan dari pimpinan pilar gereja dan pemerintah. Ketua Yayasan Bethel Indonesia, Pdt. Dr. Josafat Mesach, M.Th., dalam sambutannya menekankan pentingnya keberlanjutan dukungan sarana dan beasiswa bagi pengembangan sumber daya manusia gereja, yang ditandai secara simbolis melalui penyerahan mahasiswa penerima beasiswa kepada BPH GBI. Selanjutnya, Ketua Umum BPH GBI, Pdt. Dr. Rubin Adi Abraham, menyampaikan pesan penggembalaan agar para lulusan senantiasa menjaga keintiman dengan Roh Kudus, memiliki kerendahan hati, serta responsif terhadap perubahan zaman. Apresiasi tinggi juga datang dari pihak pemerintah melalui Dirjen Bimas Kristen Kementerian Agama Republik Indonesia, Prof. Dr. Jeane Marie Tulung, S.Th., M.Pd., yang menggarisbawahi peran vital STTBI dalam melahirkan tenaga pendidik dan pemimpin agama yang berwawasan moderasi beragama, unggul secara akademis, serta berkontribusi nyata bagi pembangunan karakter bangsa. Persembahan pujian agung dari Paduan Suara STTBI turut menyemarakkan suasana kebersamaan tersebut.
Sebagai ungkapan terima kasih dan rasa hormat atas kemitraan yang erat, Ketua STTBI Prof. Dr. Frans Pantan menyerahkan cinderamata kehormatan kepada Gembala Jemaat GBI Ecclesia Family Church, Pdt. Hengky So, M.Th., yang telah menyediakan fasilitas dan dukungan penuh bagi terselenggaranya perhelatan agung ini. Seluruh rangkaian Sidang Terbuka Senat Wisuda ke-40 STT Bethel Indonesia kemudian diakhiri dengan doa penutup yang dipimpin oleh Pdt. Hengky So, M.Th., dilanjutkan dengan ketukan palu resmi penutupan sidang oleh Ketua Senat STTBI. Melalui wisuda ini, STT Bethel Indonesia kembali mengutus lulusannya untuk hadir di tengah masyarakat sebagai pembawa pemulihan, penegak keadilan, dan pembentuk komunitas iman yang berwajah hospitalitas ilahi.


Comments