Sinopsis Akademik: Konstruksi Teologi Eco-Shalom Berbasis Nilai Shemittah
- Sekolah Tinggi Teologi Bethel Indonesia

- Feb 24
- 2 min read

Abstrak Metodologis
Kajian ini merupakan diskursus teologi ekologi yang bersifat profetis dengan menggunakan pendekatan konseptual-interpretatif. Penulisan ini mengintegrasikan wacana ekologi hutan kontemporer dengan eksegesis teologis terhadap hukum kovenantal dalam Perjanjian Lama untuk merespons krisis ekologi global yang dipandang sebagai krisis penafsiran nilai ciptaan.
Argumen Utama: Paradoks Deadwood dan Snags
Penulis menggunakan metafora deadwood (kayu mati) dan snags (batang mati yang tetap berdiri) sebagai pintu masuk hermeneutis untuk menggugat rasionalitas produksi modern. Secara ekologis, deadwood bukan merupakan limbah (waste), melainkan infrastruktur vital yang menopang biodiversitas, siklus nutrien, dan regenerasi hutan. Penulis mengontraskan "rasionalitas produksi" yang menuntut kebersihan dan efisiensi dengan "rasionalitas ekologi" yang menghargai fase diam dan proses pelapukan sebagai prasyarat keberlanjutan kehidupan.
Kritik Profetis melalui Teologi Shemittah
Pilar teologis utama dalam karya ini adalah hukum Shemittah atau Sabat tanah (Imamat 25). Shemittah dipahami sebagai instrumen kovenantal yang menegaskan bahwa tanah adalah milik absolut YHWH, sehingga manusia hanya berkedudukan sebagai penatalayan atau penyewa. Penulis memosisikan Shemittah sebagai "cermin pengadilan profetis" terhadap kolonialisme ekologi—sebuah sistem yang secara struktural menghapus jeda, menolak batas, dan menormalisasi ekstraksi total demi akumulasi kapital.
Visi Eco-Shalom dan Etika Menahan Diri
Sebagai sintesis, penulis merumuskan horizon etika ekologis yang disebut Eco-Shalom. Eco-Shalom bukan sekadar kondisi damai pasif, melainkan tatanan relasional yang operasional melalui tiga praktik utama:
Kebijaksanaan Batas: Pengakuan teologis atas keterbatasan daya dukung ciptaan.
Ritme Jeda: Pemulihan mekanisme berhenti untuk memberikan ruang bagi pemulihan alam dan manusia.
Etika Menahan Diri (Self-Restraint): Representasi etis dari konsep snags, yaitu keberanian untuk "tidak mengambil" atau mengekstraksi seluruh sumber daya demi kebaikan komunitas makhluk hidup yang lebih luas.
Kesimpulan
Karya ini menyimpulkan bahwa pemulihan ciptaan menuntut transformasi radikal dalam cara manusia memandang materi, waktu, dan kepemilikan. Melalui perspektif "Teologi Kayu Salib," penderitaan bumi dan jeritan kaum miskin akibat krisis ekologi ditempatkan sebagai locus theologicus yang memanggil gereja untuk berpartisipasi dalam misi pemulihan kosmik yang dikerjakan oleh Roh Allah.


Comments