top of page

Sinopsis Akademik: Luruh dan Lara: Filsafat Berisik-Diam di Balik Riuh Pendidikan Pentakostal Keindonesiaan


Karya ilmiah yang ditulis oleh Prof. Dr. Frans Pantan, M.Th., D.Min. ini menyajikan sebuah kajian filosofis dan kritis terhadap praksis Pendidikan Agama Kristen (PAK), khususnya dalam lingkup tradisi Pentakostal di Indonesia. Tulisan ini berangkat dari identifikasi atas krisis pedagogis di mana pendidikan iman Pentakostal kerap kali terlalu berorientasi pada intensitas ekspresi vokal dan penciptaan atmosfer emosional. Dominasi kebisingan (riuh) religius ini dinilai berisiko mereduksi pengalaman rohani menjadi sekadar performa eksternal semata, yang pada gilirannya menyingkirkan ruang bagi refleksi kritis dan pemulihan batin subjek didik.


Untuk membedah fenomena tersebut, penulis menggunakan dua konsep utama, yakni luruh dan lara. Konsep luruh digunakan untuk menggambarkan kemerosotan atau runtuhnya kesadaran reflektif dan pedagogis akibat kelelahan kognitif dan afektif. Sementara itu, lara merepresentasikan penderitaan batin yang tidak terartikulasikan di dalam ruang-ruang pendidikan religius karena ketiadaan ruang untuk mengolah pengalaman secara bermakna.


Sebagai pisau analisis, karya ini mengonstruksi kerangka "Filsafat Berisik-Diam". Penulis menolak pandangan tradisional yang memposisikan kebisingan dan keheningan sebagai oposisi biner. Sebaliknya, keduanya diletakkan sebagai dinamika pengalaman yang dialektis. Berisik dipahami sebagai medium keterlibatan dan energi eksistensial, sedangkan diam (keheningan) dipahami sebagai medium kedalaman dan ruang pemaknaan.


Sebagai bentuk rekonstruksi, buku ini mengajukan tiga proposal filosofis-pedagogis untuk mengatasi krisis luruh dan lara tersebut:


  1. Pedagogi Ritmis: Menawarkan pendekatan yang mengatur irama antara fase berisik (intensitas aktivitas/ekspresi) dan diam (ruang refleksi). Keheningan diposisikan bukan sebagai kekosongan, melainkan sebagai ruang epistemologis untuk mengendapkan makna dari pengalaman rohani.


  2. Epistemologi Mendengar: Menggagas pergeseran paradigma dari budaya yang sekadar "menyuarakan iman" secara tergesa-gesa menuju proses "memahami iman". Pengetahuan iman tidak dimulai dari berbicara atau bersaksi, melainkan dari tindakan eksistensial mendengar secara mendalam dan reflektif.


  3. Aksiologi Pemulihan: Mengubah orientasi akhir dari pendidikan iman, dari yang sebelumnya hanya berfokus pada produksi atmosfer religius menjadi pedagogi yang menyembuhkan dan memulihkan. Keheningan dalam pendidikan difungsikan sebagai ruang aman (safe space) yang memungkinkan kerentanan dan penderitaan peserta didik hadir tanpa adanya tekanan atau tuntutan performatif.


Secara keseluruhan, karya ini memberikan sumbangsih pemikiran yang fundamental bagi desain pedagogis teologi di era modern. Buku ini menawarkan paradigma pendidikan iman yang tidak sekadar mereproduksi kebisingan untuk menggerakkan massa, melainkan bertujuan untuk memulihkan dan membentuk manusia secara utuh melalui integrasi antara ekspresi spiritual, kebijaksanaan reflektif, dan tanggung jawab etis.

Comments


Sekolah Tinggi Teologi Bethel Indonesia

Jl. Petamburan IV No.5, RT.1/RW.4, Petamburan, Kecamatan Tanah Abang, Kota Jakarta Pusat, Daerah Khusus Ibukota Jakarta 10260

  • Whatsapp
  • Instagram
  • Facebook
  • Youtube
  • TikTok

More Info : WA (+62) 813-8892-0117

©2023 by Bethel Digital Creator. 

Servire Cum Virtute Spiritus Sancti

To Serve with the power of Holy Spirit

bottom of page