top of page

Merajut Dialektika Pendidikan Pentakostal dan Ekoteologi Global: STT Bethel Indonesia Kukuhkan Dua Guru Besar


JAKARTA – Sekolah Tinggi Teologi Bethel Indonesia (STTBI) kembali menorehkan tonggak sejarah baru dalam konstelasi pendidikan teologi di Tanah Air. Melalui Sidang Senat Terbuka yang digelar khidmat di Helen Theska Hall, Jakarta, pada Jumat (27/2/2026), institusi pendidikan yang bernaung di bawah Sinode Gereja Bethel Indonesia ini resmi mengukuhkan dua Guru Besar baru: Prof. Dr. Frans Pantan, M.Th., D.Min., dalam bidang kepakaran Pendidikan Agama Kristen, dan Prof. Dr. Gernaida Krisna R. Pakpahan, M.Th., D.Min., dalam bidang kepakaran Teologi Perjanjian Lama.


Acara yang dimulai tepat pukul 17.00 WIB ini tidak sekadar menjadi seremonial akademik paripurna, melainkan sebuah proklamasi teologis yang merespons tantangan zaman. Di hadapan para pimpinan Sinode GBI, perwakilan Direktorat Jenderal Bimbingan Masyarakat Kristen Kementerian Agama RI, pimpinan perguruan tinggi mitra, serta sivitas akademika, kedua cendekiawan tersebut memaparkan orasi ilmiah yang mendobrak kemapanan diskursus teologi Pentakostal tradisional.


Dialektika "Berisik-Diam" dalam Pendidikan Pentakostal

Dalam orasi ilmiahnya yang bertajuk "Luruh dan Lara: Filsafat 'Berisik-Diam' di Balik Riuh Pendidikan Pentakostal Keindonesiaan", Prof. Dr. Frans Pantan menyuguhkan sebuah refleksi filosofis yang mendalam mengenai identitas pendidikan Kristen beraliran Pentakostal. Gerakan Pentakostal yang secara historis lekat dengan ekspresi peribadahan yang antusias, dinamis, dan acapkali dicap "berisik" (riuh), kini dihadapkan pada tuntutan pendidikan yang mensyaratkan keheningan, luruh, dan kontemplasi akademik.


Prof. Frans menarasikan bahwa ruang-ruang kelas STTBI harus mampu mewadahi dialektika ini: sebuah ruang di mana letupan kuasa Roh Kudus tidak meniadakan ketajaman akal budi, dan di mana keheningan (diam) menjadi inkubator bagi lahirnya lara (empati terdalam) terhadap pergumulan jemaat. Filsafat "Berisik-Diam" ini dikonstruksi sebagai fondasi epistemologis baru bagi pendidikan agama Kristen di Indonesia, di mana rasionalitas dan spiritualitas berjalan beriringan tanpa harus saling menegasikan.


Kritik Ekoteologi Perjanjian Lama atas Krisis Global

Di ranah Teologi Perjanjian Lama, Prof. Dr. Gernaida Krisna R. Pakpahan menghentak kesadaran hadirin melalui orasinya yang berjudul "Deadwood dan Tangisan Bumi: Kritik Eco-Shalom dan Shemittah Perjanjian Lama atas Krisis Ekologi Global". Prof. Gernaida menantang kecenderungan teologi yang terlalu antroposentris dan abai terhadap penderitaan ciptaan lainnya.


Melalui penggalian teks-teks kuno Perjanjian Lama, khususnya konsep Shemittah (Tahun Sabat bagi tanah) dan Eco-Shalom (kedamaian semesta), ia merumuskan kritik tajam terhadap eksploitasi alam yang berujung pada krisis ekologi global dewasa ini. Terminologi "Deadwood" (kayu mati) diangkat sebagai metafora bagi kekeringan spiritual manusia yang tak lagi mampu mendengar "tangisan bumi". Orasi ini menjadi pijakan penting bagi teologi Pentakostal yang selama ini kerap dikritik hanya berfokus pada eskatologi (surga) untuk membumi dan mengambil tanggung jawab konkret dalam penyelamatan lingkungan sebagai wujud mandat kultural dari Allah.


Sinergi Akademik, Otoritas Negara, dan Kekayaan Nusantara

Sidang Senat Terbuka yang dipimpin oleh Ketua Senat STTBI, Dr. Gede Widiada, berlangsung dengan tata ibadah yang kental akan nuansa Nusantara. Pengenaan kain dan topi tenun tradisional oleh para dosen, serta tarian adat yang mengiringi puji-pujian, menegaskan komitmen STTBI dalam merawat teologi yang kontekstual dan mengakar pada budaya Indonesia.


Surat Keputusan (SK) Menteri Agama RI tentang kenaikan jabatan akademik Guru Besar diserahkan langsung secara simbolis oleh Direktur Pendidikan Kristen Ditjen Bimas Kristen, Dr. Suwarsono, S.PAK., M.M., mewakili Dirjen Bimas Kristen. Prosesi ini dilanjutkan dengan pengalungan tanda kehormatan profesor oleh Ketua Umum Badan Pengurus Pusat (BPP) Sinode GBI, Pdt. Dr. Rubin Adi Abraham, M.Th., serta penyematan pin apresiasi oleh Ketua Yayasan Seminari Bethel, Pdt. dr. Josafat Mesach, M.Th.


Dalam sambutannya, Pdt. Dr. Rubin Adi Abraham menegaskan bahwa pencapaian ini adalah manifestasi berkat Tuhan bagi ekspansi kerajaan-Nya. Kehadiran para Guru Besar diharapkan dapat terus melahirkan pelayan-pelayan Tuhan yang cerdas secara rasio, matang secara spiritualitas, dan bernyala dalam kepedulian terhadap gereja dan bangsa.


Upacara ditutup dengan doa pengutusan yang menggemakan mandat mulia: "Ajarlah kami, ya Tuhan, agar gereja-Mu tidak hanya pandai bersuara, tetapi berani mendengar." Sebuah penutup yang merangkum esensi dari kedua orasi ilmiah pada hari itu mendengar tangisan bumi dan menyeimbangkan keriuhan dengan keheningan kontemplatif.

Comments


Sekolah Tinggi Teologi Bethel Indonesia

Jl. Petamburan IV No.5, RT.1/RW.4, Petamburan, Kecamatan Tanah Abang, Kota Jakarta Pusat, Daerah Khusus Ibukota Jakarta 10260

  • Whatsapp
  • Instagram
  • Facebook
  • Youtube
  • TikTok

More Info : WA (+62) 813-8892-0117

Servire Cum Virtute Spiritus Sancti

©2023 by Bethel Digital Creator. 

To Serve with the power of Holy Spirit

bottom of page