top of page

Seminar Nasional STT Bethel Indonesia: Mengintegrasikan Keunggulan Diri dan Panggilan Pelayanan Melalui "High Performance Habits"

JAKARTA – Pada hari Rabu, 11 Februari 2026, Sekolah Tinggi Teologi (STT) Bethel Indonesia kampus Jakarta menyelenggarakan seminar bertajuk "High Performance Habits: How Extraordinary People Become That Way". Dihadiri oleh lebih dari 200 mahasiswa lintas angkatan, seminar ini bertujuan untuk menjawab tantangan esensial dalam dunia teologi dan pelayanan pastoral: bagaimana membangun kapabilitas diri yang unggul tanpa kehilangan sukacita dan kesejahteraan spiritual.



Pdm. Thomas Tampi, B.Sc., M.B.A., M.Div., menghabiskan lebih dari tiga dekade di puncak industri perbankan dan investasi internasional — dari Chase Manhattan Bank di New York, Bank Danamon, Bank Universal Grup Astra, Samuel Sekuritas, hingga menjabat Senior Vice-President di Charoen Pokphand Group, salah satu konglomerat agribisnis terbesar di Asia. Bukan karir yang membuat orang buru-buru pensiun. Tapi di titik tertentu, ia memilih keluar dari daftar panjang jabatan itu, masuk ke bangku teologi, dan menyelesaikan Master of Divinity di kampus yang sama tempat ia kini berbicara. Ketika seorang pria dengan latar belakang seperti itu bicara soal performa dan kebiasaan, ruangan tidak perlu diminta untuk diam.


Enam Pilar Kebiasaan Berkinerja Tinggi

Materi yang dibawakan bersumber pada riset ekstensif selama dua puluh tahun oleh Brendon Burchard, yang mensurvei lebih dari 1,6 juta responden di 195 negara. Premis utamanya mematahkan asumsi konvensional: kesuksesan dan kebahagiaan yang berkelanjutan bukanlah produk dari bakat bawaan atau privilese koneksi, melainkan hasil dari kebiasaan yang dilatih secara konsisten. Dalam konteks akademik dan persiapan pelayanan, Pdm. Thomas menjabarkan enam kebiasaan kunci yang harus dibangun oleh setiap calon hamba Tuhan:


  • 1. Menemukan Kejelasan (Seek Clarity) Kinerja yang tinggi dimulai dari pemahaman yang jujur tentang identitas diri, visi ke depan, dan kompetensi yang perlu dikembangkan. "Banyak orang sibuk, tapi tidak sedikit pun maju karena mereka bergerak tanpa arah yang jelas," tegasnya. Kejelasan adalah fondasi operasional dalam kehidupan maupun pelayanan.

  • 2. Membangkitkan Energi (Generate Energy) Data menunjukkan bahwa 5% dari individu dengan pencapaian tertinggi di dunia memiliki probabilitas 40% lebih besar untuk rutin berolahraga setidaknya tiga kali seminggu. Dalam pandangan akademik dan spiritual, menjaga kesehatan fisik, pola tidur, dan nutrisi adalah sebuah investasi esensial. Energi untuk melayani bukanlah sesuatu yang ditunggu, melainkan harus diciptakan secara proaktif.

  • 3. Meningkatkan Urgensi Panggilan (Raise Necessity) Membangkitkan rasa "perlu" secara mendalam. Pdm. Thomas mengajak audiens untuk merefleksikan satu pertanyaan krusial: "Siapa yang paling membutuhkan performa terbaik Anda saat ini?" Bagi mahasiswa teologi, kesadaran akan adanya jemaat yang menanti bimbingan, keluarga yang butuh pemulihan, dan jiwa-jiwa yang terhilang, merupakan katalis motivasi yang melampaui ambisi personal semata.

  • 4. Meningkatkan Produktivitas (Increase Productivity) Sibuk tidak selalu ekuivalen dengan produktif. Produktivitas yang sejati diinisiasi melalui proses eliminasi—mengidentifikasi dua atau tiga prioritas utama yang paling berdampak, lalu mengalokasikan 60% waktu dan energi pada hal-hal tersebut. Pemecahan fokus pada terlalu banyak hal justru akan menghasilkan kinerja yang medioker.

  • 5. Mengembangkan Pengaruh (Develop Influence) Sebagai mantan eksekutif senior sekaligus pendeta, Pdm. Thomas mendefinisikan pengaruh bukan berdasarkan jabatan struktural, melainkan kemampuan untuk membentuk cara berpikir orang lain dan menjadi teladan moral yang konsisten. Riset mencatat bahwa 71% high performers secara sadar memposisikan diri mereka sebagai role model setiap harinya.

  • 6. Menunjukkan Keberanian (Demonstrate Courage) Keberanian tidak direpresentasikan oleh ketiadaan rasa takut, tetapi oleh komitmen untuk tetap melangkah di tengah ketakutan tersebut. Ini berbicara tentang resiliensi dalam menghadapi setiap tantangan pelayanan dan keyakinan untuk memperjuangkan nilai-nilai kebenaran.


Menghindari Jebakan Keberhasilan

Menutup sesi pemaparannya, Pdm. Thomas memberikan tinjauan kritis terhadap tiga jebakan psikologis yang kerap menghantui individu berprestasi: rasa superioritas yang mematikan ruang pembelajaran, ketidakpuasan kronis yang menggerus sukacita, dan pengabaian terhadap aspek fundamental kehidupan lainnya demi mencapai target.


Seminar ditutup dengan sebuah refleksi mendalam yang disambut dengan antusiasme tinggi dari para peserta. Acara ini menjadi pengingat akademis sekaligus teologis bahwa menjadi hamba Tuhan yang berdedikasi dan menjadi pribadi dengan kinerja unggul bukanlah sebuah dikotomi. Keduanya tumbuh dari akar yang sama: kedisiplinan hidup yang dibangun dengan penuh kesadaran, setiap hari, tanpa kompromi.

Comments


Sekolah Tinggi Teologi Bethel Indonesia

Jl. Petamburan IV No.5, RT.1/RW.4, Petamburan, Kecamatan Tanah Abang, Kota Jakarta Pusat, Daerah Khusus Ibukota Jakarta 10260

  • Whatsapp
  • Instagram
  • Facebook
  • Youtube
  • TikTok

More Info : WA (+62) 813-8892-0117

Servire Cum Virtute Spiritus Sancti

©2023 by Bethel Digital Creator. 

To Serve with the power of Holy Spirit

bottom of page